Munculnya astrofisika

Sebelum kita sudah mengatahui asal mula astronomi, sekarang kita akan lanjut kepada astrofisika. Sejak akhir abad ke-18 dan seterusnya, para astronom dan fisikawan membuat serangkaian penemuan kunci dan kemajuan dalam teknik dan teknologi. Ini memungkinkan para astronom belajar untuk pertama kalinya tentang sifat fisik bintang selain Matahari kita sendiri.

Rahasia dan cahaya
Sepanjang sejarah awal astronomi, bintang-bintang hanyalah titik cahaya kecil di langit malam, terlalu jauh untuk mengungkapkan dengan teleskop bahkan ketika dengan perbesaran tertinggi. Tetapi ketika kekuatan pengumpulan cahaya dari instrumen astronomi meningkat, para astronom dapat menggunakan cahaya bintang jauh dengan lebih canggih dan lebih jelas. Meskipun Isaac Newton telah membagi sinar matahari melalui sebuah prisma di akhir abad ke-17, para ahli kimia Inggris seperti William Hyde Wollaston (1766-1828) yang menyempurnakan proses tersebut, mengembangkan spektroskop, alat untuk menganalisis panjang gelombang cahaya yang dipancarkan dari suatu objek.

Pada tahun 1821, ilmuwan Jerman Joseph von Fraunhofer menemukan bahwa sinar matahari yang terbelah melalui spektroskop bukanlah spektrum warna yang berkelanjutan, tetapi dilintasi oleh banyak garis gelap. Pada tahun 1859, rekan-rekannya dari Jerman Robert Bunsen dan Gustav Kirchhoff berhasil menjelaskan garis-garis ini sebagai hasil dari bahan kimia di atmosfer Matahari yang menyerap panjang gelombang cahaya yang sama dengan yang mereka pancarkan ketika dipanaskan di laboratorium.

Cahaya dari bintang-bintang pada awalnya terlalu samar untuk dianalisis dengan cara ini, tetapi kedatangan fotografi selama abad ke-19 akhirnya memungkinkan eksposur panjang yang menangkap spektrum bintang dari waktu ke waktu. Sementara itu, pada tahun 1838, astronom Jerman Friedrich Bessel membuat terobosan lain, menggunakan paralaks untuk mengukur jarak ke bintang untuk pertama kalinya.

Urutan diantara bintang-bintang
Berbekal alat baru spektroskopi dan fotografi, para astronom mengatur tugas besar untuk membuat katalog benda-benda di langit. Pada awalnya, banyak garis penyerapan yang berbeda dalam spektrum bintang dan variasi warna dan luminositas tampak kacau, tetapi sekelompok astronom perempuan yang bekerja di Harvard College Observatory di AS pada tahun 1890 akhirnya menemukan skema yang masuk akal.

Dipimpin oleh Annie Jump Cannon, “Harvard Computers” menyusun Katalog Henry Draper yang hebat, menyaring ribuan spektrum bintang untuk memilah bintang-bintang menjadi “tipe spektral” yang dibedakan oleh garis spektral dan warna mereka (yang saat itu diketahui mewakili permukaan suhu). Di tempat lain, para astronom sibuk menyusun pengukuran paralaks untuk semua bintang terdekat, tetapi baru pada tahun 1906 dan 1913 Ejnar Hertzsprung dan Henry Norris Russell secara independen menemukan ide untuk membandingkan dua set data pada grafik. Diagram Hertzsprung-Russell yang dihasilkan mengungkapkan bahwa sebagian besar bintang mematuhi hubungan sederhana antara jenis spektral dan kecerahan, dengan pengecualian yang jatuh di wilayah grafik yang berbeda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *